Tentang Ambisi & Realita

Nama saya NUR HAFIZ, lahir di KAL-BAR pada 02 Februari 1988 dan menerima gelar Yatim Piatu sejak tahun 1998. Saya membesar di TANAH JAWA dan pernah menjabat sebagai Kepala I.T. Programmer di sebuah PT. di Jakarta Barat yang bergerak di Bidang Pendidikan, menjadi Business Consultant untuk Pabrik Percetakan Buku Pendidikan di Solo - JAWA TENGAH, Software Engineer di Bagan Besar - SUMATERA untuk CV. & PT. yang bergerak di Bidang Pengangkutan Komoditas CPO/CPKO. Web Designer & Programmer serta Spesialis I.T. yang tidak mempunyai Ijazah atau latar belakang Pendidikan Tinggi. Selepas kejadian 16 Desember 2017, saya adalah Pejalan Kaki Jarak Jauh Lajur Kanan dengan Asuransi Nyawa sebesar Rp. 100.000.000,00 pemberian Sinarmas MSIG Life
(No. Peserta: 08.401.2017.00008.17).
ULAH KETUA YAYASAN + POLISI BODONG
SABTU, 16 DESEMBER 2017
* Sekitar Jam 16 sore (sebelum Toko Bangunan tempat saya melakukan pemesanan Cat Anti Gores itu tutup), saya pamit keluar di saat Mas Cepot sedang menggunting hasil Decal's Designnya.

* Pulang dari Toko Bangunan, Cat Anti Gores saya letakkan di atas meja kerja dan langsung menghidupkan PC serta melanjutkan kerja menambah lapisan Pylox ke 4 pcs ID Card terakhir (total keseluruhan : 12 pcs Exclusive ID Card = Rp.500.000). Saat itu, Mas Cepot masih menggunting Decal's Designnya.

* Selepas menambah lapisan Pylox, saya mengunduh Drama Korea yang akan ditonton selama menunggu Cat Kering dan rencananya akan ditonton saat makan malam.

* Saya meminta Uang dari Mas Cepot untuk membeli Indomie yang akan dimasak barengan dengan Indomie yang diberikan oleh Mas Aray sebelumnya.

* Selepas membeli dan memasak Indomie di dapur, saya langsung ke atas. Saat di atas, Mas Cepot sudah selesai menggunting dan Kami makan bersama.

* Baru sesuap di mulut dan baru saja klik "Play Video" serta, baru saja Mas Cepot merapat ke meja kerja saya, Mas Ali datang bersama Victor dan teman-teman lainnya.

* Dengan paksa, Mas Ali menyuruh saya mematikan PC Intel Core2Duo dan meminta Laptop Intel i5 pemberian Sinarmas MSIG Life. Unsur paksa itu ada karena, tanpa Musyawarah atau berdiskusi, juga tidak menyuruh saya memilah semua hasil Karya saya selama di Yayasan, Mas Ali dengan terang-terangan mengambil paksa semua peralatan kerja saya.

* Victor menurunkan Set PC Intel Core2Duo merek Dell + UPS merek APC pemberian PT. Asuransi Takaful Keluarga, Notebook merek Acer milik Mas Aray dan Printer Canon MP410 pemberian PT. Telkom Selular dari rak atas meja kerja saya.

* Pertanyaan Pertama yang keluar dari mulut Mas Ali adalah, "Apa susah banget yah masukin iklan (Pencak Silat)?". Iklan Pencak Silat ini adalah permintaan Pak Adi yang secara keseluruhan saya hanya sebagai Relawan yang membantu Pak Adi, bukan Staf atau Karyawan yang bisa disuruh-suruh sesuka hati mereka berdua.

* Awalnya pada tanggal 9 Oktober 2017, saya direkomendasikan oleh Mas Ali untuk membuat Website Majalah TENAR dengan kreatifitas saya sendiri. Saya menerima tawaran tersebut walaupun saya masih sibuk dalam pembuatan Software Yayasan yang pernah dibocorkan di atas pentas pada acara CSR #SMiLeWithMe Sinarmas MSIG Life di KidZania - Mall Pacific Place, Jakarta. Dengan terbuka, terekam Kamera dan bersaksikan lebih 100 Orang, Mas Ali mengatakan Sistem Software ini akan "Transparan" terkait Akuntasi Yayasan, mengutip dari apa yang pernah saya sampaikan kepadanya karena 100% Ide & Tenaga Kerja Pembuatan Software ini adalah Saya. Ibu Ruth Nainggolan, General Manager Sinarmas MSIG Life bersedia untuk mendukung ide saya yang disampaikan oleh Mas Ali.

* Majalah TENAR yang sebelumnya menggunakan domain Teropong-Nasional.com bukanlah tugas yang terkait dengan Management Yayasan. Saya meletakkan Syarat (walaupun sebagai Relawan) meminta Pak Adi menyiapkan Akomodasi per Minggu Rp.100rb selepas menyerahkan Modal Awal Pembuatan Website sebesar Rp.500rb. Awalnya bersetuju dengan Syarat tersebut, tapi selama berminggu-minggu, Syarat itu dilanggar dan sering banget diungkit-ungkit oleh Mas Ali yang seolah-olah tidak mengetahui tentang Akomodasi per Minggu. Dia adalah saksi tunggal di saat saya meletakkan Syarat tersebut. Pembayaran Rp.500.000 juga tidak saya terima utuh/penuh hingga memaksa saya berulang-kali memintanya ke Mas Ali hingga lunas.

* Setiap kali saya bertanya kesalahan saya, Mas Ali tidak menjawabnya, justru mengungkit-ungkit Akomodasi yang sudah disepakati sebelumnya. Laptop i5 pemberian Sinarmas MSIG Life yang seharusnya "wajib" diberikan kepada saya (berdasarkan tujuan Sinarmas MSIG Life + hanya Saya dan Mas Cepot yang mahir Design menggunakan Photoshop & CoralDraw di Yayasan) diungkit-ungkit dengan mengatakan saya memintanya dengan kata-kata yang kurang enak dibaca. Pertama kali 6 Unit Laptop i5 merek Lenovo itu berada di Yayasan, Staf yang tidak ada kaitannya dengan I.T. (proyek yang disebut-sebut di KidZania) atau yang tidak mengerti Software Design menerimanya duluan, jauh sekali dengan pemberitaan di Media-media ternama terkait maksud dan tujuan Sinarmas MSIG Life memberikan Laptop i5 itu. Jika saya dituduh menulis cerita palsu, silahkan diperiksa semua Staf termasuk Ketua Yayasan yang tercatat di Laporan PT. Sucofindo, Bulan September - Oktober jika ada antara mereka semua yang bisa disebut Designer. Niat saya bukan untuk merendahkan siapa-pun, bagi saya Jujur itu yang Utama di sebuah Organisasi Sosial.

* Dengan tangan Mas Ali yang menggeletar, dia menunjukkan isi WhatsApp yang saya forward kepadanya, tapi "sebenarnya" ditujukan buat Pak Adi. Mas Ali merasa saya merendah-rendahkan dirinya sedangkan bunyi pesan itu biasa saja dan bukan ditujukan kepada Mas Ali. Dengan tenang, saya menunjukkan pesan WhatsApp yang terlebih dahulu saya kirimkan ke Pak Adi. Tapi, terus saja merasa tindakannya sudah benar dan mengungkit-ungkit pemberian sebelum-sebelumnya.

* Mas Ali juga ada mengungkit tentang pemberian honor dari PT. Sucofindo di hadapan teman-teman yang tidak terdaftar di Laporan yang akan dikirimkan ke PT. Sucofindo. Saya menanda-tangani Laporan Penerimaan Honor sebesar Rp.300.000 "tetapi" setelah seminggu, saya hanya menerima amplop berisi Rp.100.000 yang diberikan oleh Capung. Saat dibahas pada tanggal 23 November 2017 lewat pesan WhatsApp, Mas Ali mengatakan bahwa dana yang saya terima itu adalah hasil "selepas" dibagi-rata. Saat itu juga saya ditawarkan Rp.1.000.000 oleh Mas Ali, tetapi saya menolaknya mengingat saya hanya bertanya apa yang "tertulis" dan tidak bermaksud meminta sesuatu yang tidak diketahui. Jika dibahas lebih lebar lagi, Demi Allah saya mulai mengetahui ada yang janggal dengan jawaban "bagi-rata" setelah diberitahukan oleh Kipli yang menerima "lebih 2 kali lipat" dari apa yang telah saya terima. Jika Mas Ali mau memutar-balikkan fakta, cukup belajar lagi untuk mengetahui tugas seorang Software Engineer itu bisa menyamai seorang Arsitek yang membutuhkan lebih 50 Orang tenaga kerja untuk menciptakan karyanya. Saya PekSos yang tidak pernah mau hitung-hitungan dan sangat membenci jika Nama Saya dibawa-bawa untuk sesuatu yang tidak jelas atau bahasa kasarnya, Laporan Palsu buat PT. Sucofindo.

* Hanya setelah "semua" peralatan kerja saya diambil paksa, baru Mas Ali mengajak Musyawarah ke bawah. Dalam kamus manapun, keputusan yang sudah dibuat sesuka-hati dan tanpa penjelasan, tidak bisa disebut "Musyawarah". Secara halus bisa disebut "pembuangan" atau "usir". Apalagi melibatkan teman-teman yang tidak ada kaitannya dengan tugas saya, melainkan percobaan untuk mencari-cari kesalahan supaya dapat menunjukkan "sesuatu" yang sebenarnya tidak ada kaitan dengan "Pertanyaan Pertama".

* Yang berbekas di hati saya, dengan lancang dia menyebut dirinya adalah Ketua Yayasan dan berhak membuat keputusan seperti itu. Membawa-bawa kisah lalu bekerja di Kepolisian seolah-olah mau menakut-nakuti saya. Tetapi tidak merasa dirinya hanya menjadi contoh yang sangat menyedihkan. Yang namanya Polisi itu Disiplin. Yang namanya Ketua Yayasan itu Adil. Tidak terima dengan nasehat-nasehat saya sebelum-sebelumnya? Ya sudah, se-pintar-mu dewe'.

* Mas Ali juga mengatakan dengan sangat jelas sudah putus hubungan baik dengan Pak Adi dan mengungkit pekerjaan saya terkait Kartu Anggota PERS Majalah TENAR. Sebelumnya, saya meminta untuk menarik kembali 3 Kartu Anggota PERS yang dibawa oleh Mas Ali karena, Kartu itu tidak bisa disebut "Barang Siap" dan masih belum diberikan Anti Gores. Perjanjian sebelumnya, saya akan menyiapkan semua Kartu Anggota PERS (12 pcs) sebelum tanggal 18 Desember 2017, tapi malam tanggal 16 Desember 2017, pekerjaan saya diganggu dengan kejadian ini.

* Setelah semuanya ke bawah meninggalkan saya sendirian di atas, saya lanjut menghabiskan Indomie pemberian Mas Aray. Setelah itu, saya mengumpulkan barang-barang milik Pribadi sesuai Daftar Bawaan "sebelum" saya di Yayasan. Modem Andromax milik Mas Ali dan HDD dari Notebook milik Mas Aray saya gandengkan di atas meja kerja saya. 2 Modem WiFi yang dibeli dari Honor Yayasan tidak saya bawa. 1 Modem WiFi yang menjadi Kunci (MAC Address) Software Yayasan dan Kunci Sandi Linux Ubuntu (hak saya) saya bawa. Power Bank 7800mAh merek Bcare pemberian Sinarmas MSIG Life juga saya bawa bersama H/P Samsung Duos GT-S7262 milik saya.

* 8 buah Kartu Anggota PERS Majalah TENAR yang belum siap karena belum diberikan Cat Anti Gores yang diambil pada sore hari kejadian, saya susun dengan urutan Pertama adalah yang seharusnya menjadi milik Mas Ali. Urutan Ke-2 saya gores 3 garis menggunakan Aluminium yang terpasang di Antenna Modem WiFi untuk membuktikan itu bukan "Barang Siap". 1 Kartu Anggota PERS saya bawa bersama 4 Design Depan Kartu Anggota PERS dengan niat akan menjadikan Kartu ID ini sebagai bahan contoh jika kedepannya saya bisa usaha mandiri. Sebelum-sebelumnya, Mas Ali dan Pak Adi mengatakan bisa bersabar dengan 100% Hasil Karya saya itu hingga hari meeting bersama pada tanggal 18 Desember 2017 atau jika saat ketemuan masih belum disiapkan, mereka ingin membatalkannya. Saya setuju tanpa alasan apa-pun karena percaya, Toko Bangunan (tempat saya membuat pesanan Cat Anti Gores) pasti akan menyiapkan pesanan saya sebelum tanggal meeting.

* Dengan persiapan yang sederhana untuk mulai berjalan kaki lagi, membawa uang recehan hanya Seribu Rupiah, saya turun ke lantai bawah dengan sabar dan tenang. Pamitan dengan teman-teman Yayasan yang ada di Kantor bawah dan meminta izin untuk mengambil Flash-Disk 16GB merek Sandisk milik saya yang ada di kantong tas Laptop i5 merek Lenovo pemberian Sinarmas MSIG Life.

* Keluar dari Yayasan, saya langsung menuju ke PolSek Pasar Minggu, Jakarta Selatan untuk melaporkan keluar dari Yayasan dan ingin mulai Berjalan Kaki lagi dan hanya berhenti berjalan kaki jarak jauh apabila bertemu dengan orang yang membutuhkan keahlian saya ke arah yang Benar, Halal & Barokah.
© 2017 - 2018 NUR HAFIZ. E-mail: [email protected]
Isi tulisan di "Realita" ini adalah Kisah Nyata yang saya jalani dan tidak berniat untuk memburukkan Nama Individu, Perusahaan, Organisasi atau Siapa-pun yang terlibat di dalam setiap Judul & Tulisan yang dipublikasikan.